JEMBER – Senat Mahasiswa Universitas (SEMA-U) UIN KHAS Jember akhirnya mengambil langkah konkret dalam menjalankan fungsi controlling-nya. Tidak tanggung-tanggung, sebuah forum krusial bertajuk Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) digelar dengan menghadirkan seluruh elemen organisasi mahasiswa (Ormawa) di bawah naungan Republik Mahasiswa (RM). Dilaksanakan pada Rabu (10/06/2016).
Forum yang berlangsung panas namun konstruktif ini dihadiri sedikitnya 200 pengurus ORMAWA se-UIN KHAS Jember. Kehadiran massa yang masif ini menjadi sinyal kuat bahwa ada keresahan kolektif yang selama ini tersumbat di akar rumput kelembagaan mahasiswa.
Menguji Fungsi Kontrol: Bukan Sekadar Seremonial
Selama ini, fungsi pengawasan legislatif mahasiswa sering kali dicurigai hanya sebatas formalitas di atas kertas. Namun, RDPU kali ini membuktikan sebaliknya. SEMA-U memosisikan diri sebagai wadah penguji kelayakan kinerja dan fasilitas kelembagaan secara objektif.
Bukan rahasia lagi, dinamika internal ORMAWA di UIN KHAS Jember kerap terbentur pada masalah klasik, infrastruktur yang tidak memadai. Melalui forum ini, fungsi kontrol kelembagaan benar-benar dihidupkan untuk membedah potret buram fasilitas yang selama ini luput dari perhatian serius pihak birokrasi kampus.
Ujung Tombak Advokasi Fasilitas UKM/UKK
Pembahasan paling krusial dalam RDPU ini tertuju pada kondisi fasilitas di sejumlah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Unit Kegiatan Khusus (UKK). Komisi Advokasi SEMA-U yang mengawal isu ini memaparkan fakta lapangan terkait usangnya sarana prasarana yang menghambat produktivitas mahasiswa.
Gong dari pergerakan ini adalah tuntutan pengadaan barang-barang kesekretariatan, alat tulis kantor (ATK) yang baru dan beberapa renovasi Kantor ORMAWA. Targetnya tidak main-main: realisasi harus rampung sebelum Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 berlangsung.
Logikanya sederhana namun menohok, bagaimana ORMAWA bisa menyambut dan membina ribuan mahasiswa baru dengan fasilitas sekretariat yang pincang dan alat kantor yang sudah selayaknya masuk museum? PBAK adalah wajah universitas di mata mahasiswa baru, dan Ormawa adalah motor penggeraknya. Membiarkan UKM/UKK bertempur tanpa senjata yang layak di PBAK nanti adalah bentuk kelalaian yang tidak bisa ditoleransi.
Mengawal Janji, Menolak Kompromi
Suksesnya RDPU ini barulah langkah awal. Kehadiran 200 pengurus Ormawa menegaskan bahwa tuntutan ini bukan sekadar keinginan segelintir elite SEMA-U, melainkan kebutuhan riil ratusan mahasiswa yang aktif berorganisasi.
Bola panas kini ada di tangan pihak birokrasi kampus. SEMA-U melalui Komisi Advokasi telah menegaskan posisinya, tidak ada ruang untuk negosiasi yang bertel. Pengadaan fasilitas baru sebelum PBAK 2026 adalah harga mati demi menjaga marwah kelembagaan mahasiswa UIN KHAS Jember. Jika garis waktu ini meleset, maka fungsi controlling SEMA-U dipastikan akan bergeser menjadi gelombang advokasi yang jauh lebih menekan.
