SEMARANG – Ratusan delegasi Mahasiswa yang tergabung dalam Senat Mahasiswa (SEMA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se Indonesia menyepakati perlunya pengawalan ketat terhadap keadilan sosial dan sinkronisasi kebijakan publik. Kesepakatan ini lahir dari forum Konsolidasi Nasional SEMA PTKIN di kampus UIN Walisongo Semarang yang digelar selama empat hari, 19-22 Mei 2026.
Mengusung tema besar “Penguatan Peran Mahasiswa PTKIN dalam Mewujudkan Keadilan Sosial, Demokrasi Substantif, dan Pembangunan Berkelanjutan”, forum ini menjadi wadah benturan gagasan para pimpinan legislatif mahasiswa. Kehadiran delegasi secara paripurna dari ujung Sabang hingga Merauke menegaskan tingginya urgensi konsolidasi gerakan mahasiswa menyikapi dinamika nasional.

Senat Mahasiswa (SEMA) UIN KHAS Jember yang turut hadir sebagai bagian dari delegasi strategis dalam konsolidasi ini, menegaskan pentingnya sinkronisasi gerakan lintas wilayah. Ketua SEMA UIN KHAS Jember, Muhammad Oki Mabruri, menyoroti bahwa forum ini harus berdampak nyata bagi kehidupan bangsa.
“Forum ini adalah langkah awal untuk kita bisa mengawal masalah dan isu Indonesia yang sedang terjadi, dan bisa saling sharing terkait isu-isu di daerah masing-masing dan itu perlu,” tegas Oki. Pernyataan ini merepresentasikan kegelisahan delegasi daerah yang menuntut adanya integrasi advokasi dari tingkat lokal ke kancah nasional.
Antusiasme dan tensi intelektual sudah terasa sejak hari pertama. Forum dibuka dengan sambutan Rektor UIN Walisongo dan jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang menyoroti peran sentral kampus Islam sebagai benteng moral demokrasi. Puncak pembukaan diwarnai dengan orasi ilmiah oleh Kapolda Jawa Tengah, Irjen. Ribut Hari Wibowo, yang membedah diskursus mengenai supremasi hukum dan stabilitas sosial, disusul respons kritis dari para peserta forum.
Diskursus semakin menukik pada hari kedua. Wakil Wali Kota Semarang hadir memantik perdebatan terkait implementasi ideologi bernegara dan pembangunan daerah berkelanjutan. Sesi ini dimanfaatkan delegasi SEMA PTKIN untuk membedah sejauh mana pemenuhan hak-hak dasar masyarakat direalisasikan oleh eksekutif, serta membangun kerangka perbandingan masalah antar Provinsi.
Tidak melulu terjebak di ruang sidang, pada hari ketiga, konsolidasi ini membawa pesertanya merefleksikan sejarah lewat kunjungan ke Lawang Sewu. Agenda ini menjadi napak tilas historis untuk memahami jejak kolonialisme, memantik kesadaran akan pentingnya menjaga kedaulatan bangsa dari berbagai bentuk intervensi di era modern.
Rangkaian Konsolidasi Nasional ini resmi ditutup pada 22 Mei seiring dengan kepulangan para delegasi. Forum ini meninggalkan pekerjaan rumah besar bagi setiap SEMA-U untuk memastikan gagasan dan hasil konsolidasi di Semarang tidak hanya menjadi arsip, tetapi bertransformasi menjadi produk legislasi dan advokasi nyata di kampus masing-masing.
