JEMBER – Senat Mahasiswa (SEMA) UIN KHAS Jember sukses menjadi tuan rumah perdana penyelenggaraan Musyawarah Daerah (Musyda) pada Kamis, (14/5/2026).
Acara tersebut merupakan sejarah baru di lembaga legislatif mahasiswa se-Tapal Kuda.
Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI) Se-Tapal Kuda yang dihadiri anggota dewan, perwakilan kapolres jember, dandim dan Civitas Akademika UIN KHAS Jember.
Peristiwa penting ini berkembang menjadi forum oposisi intelektual, bukan sekadar acara seremonial biasa.
Ketua SEMA UIN KHAS Jember, Muhammad Oki Mabruri, menyoroti isu etika yang kini melanda Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ( DPRD ) Kabupaten Jember dan sepenuhnya membongkar kepura – puraan keterlibatan publik.
Dihadapan puluhan delegasi mahasiswa dari berbagai kampus Saat sambutan, kata-kata pembuka yang disampaikan ketua SEMA mengecam standar Sidang Publik ( RDP ), yang selama ini hanya digunakan oleh para dewan sebagai alat manipulasi.
“Mengapa mahasiswa seringkali tidak dilibatkan dalam Sidang Publik ( RDP ) yang diadakan oleh dewan,” ucap Okky.
“Anggota dewan dan para pembuat kebijakan yang saya hormati, mari kita berhenti bersandiwara. Ada sebuah narasi palsu yang selama ini terus dipertahankan. Yang ingin saya tanyakan: mengapa mahasiswa selalu dikesampingkan dari forum RDP. Faktanya, ketika kami akhirnya diundang, itu hanyalah sebuah pertunjukan. Kami sekadar hadir, duduk, difoto, dan mengisi daftar hadir. Lalu keesokan harinya, Perda tersebut tiba-tiba disahkan begitu saja,” kata Okky.
“Partisipasi kami diabaikan. Kami hanya dijadikan alat legitimasi untuk memenuhi kewajiban administratif semata.”Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91 Tahun 2020 sudah sangat jelas. Partisipasi publik itu punya tiga nyawa: hak didengarkan, hak dipertimbangkan, dan hak mendapat penjelasan! Jika gagasan kami diabaikan tanpa argumen yang rasional, maka ingat baik-baik, produk hukum Bapak/Ibu adalah produk hukum yang cacat,” tuturnya.
Tamparan Keras untuk Insiden “Main Game & Merokok” di DPRD Jember
Kritik tajam berlandaskan Putusan MK tersebut bukan tanpa alasan. Di atas mimbar, Ketua SEMA UIN KHAS Jember juga secara terang terangan mengatakan realitas memalukan yang baru saja mencoreng marwah parlemen Kabupaten Jember.
Bukti nyatanya bisa kita lihat pada kasus Achmad Syahri As Siddiqi, anggota Komisi D DPRD Jember, yang baru-baru ini tertangkap kamera sedang asyik main game dan merokok di tengah berlangsungnya RDP.
Lucunya, penegakan etik di tingkat daerah malah terkesan lambat dan saling lempar bola. Badan Kehormatan (BK) DPRD Jember beralasan belum bisa bertindak karena nunggu surat tugas dari Ketua DPRD. Justru teguran keras malah baru turun dari pusat, yaitu dari Majelis Kehormatan DPP Gerindra di Jakarta.
Menanggapi hal ini, Oki melontarkan kritik tajam.
“Ini potret nyata runtuhnya etika,” kata Okky.
Oknum wakil rakyat yang harusnya mendengarkan keluhan aspirasi malah asyik main game dan merokok di ruang sidang.
“Boro-boro bicara partisipasi publik yang bermakna, kalau anggota dewannya sendiri saja tidak bisa menghargai forum,” ucap Okky.
Ultimatum Mahasiswa Tapal Kuda
Suksesnya Musywarah Daerah FL2MI Tapal Kuda yang difasilitasi oleh SEMA UIN KHAS Jember telah menjadi momentum kebangkitan perlawanan mahasiswa di seluruh kawasan Tapal Kuda.
“Kita sudah sepakat dan satu suara stop menoleransi aturan-aturan yang proses dan etikanya bermasalah,” tegas Okky.
Musywarah Daerah ini adalah peringatan keras bagi para anggota dewan. Pesannya sangat jelas: mahasiswa berjuang dengan rasionalitas, dan kita tidak akan pernah mau tunduk apalagi diam di hadapan pejabat publik yang sudah kehilangan urat malu dan integritas.
